Caen, Kuda Hitam Ligue 1 yang Bermain Seperti Leicester City

Musim 2015/16 seperti menjelma sebuah dongeng. Banyak tim semenjana sedang naik. Contohnya adalah Leicester City di Premier League, Hertha Berlin di Bundesliga, Celta Vigo di La Liga, serta Angers SCO dan Stade Malherbe Caen di Ligue 1.

Stade Malherbe Caen, atau yang biasa disebut Caen, hingga menjelang pertengahan musim ini duduk di peringkat keempat Ligue 1, menggeser kekuatan-kekuatan lama seperti Olimpique Marseille, Olimpique Lyon, Saint Etienne, dan Nantes.

Keberhasilan klub dari kawasan Lower Normandy tersebut menduduki peringkat keempat Ligue 1 (dan Angers yang berada dua strip di atasnya) merupakan suatu kejutan. Kisah sukses Caen, juga Angers, memang tidak diprediksi banyak pihak. Sebab, musim lalu Caen hanya mengumpulkan 46 poin dari 38 pertandingan. Selain itu, kepergian beberapa pemain kunci musim lalu seperti N’Golo Kante, Thomas Lemar, Sloan Privat, Mathieu Duhamel, dan Lenny Nangis dianggap dapat menurunkan level permainan Caen.

Patrice Garande, pelatih Caen yang dikontrak sejak awal musim 2012/13, pun mendatangkan pemain baru pun untuk menggantikan pemain yang pergi. Lima dari sembilan dari pemain baru pun langsung menjadi pemain kunci, di antaranya adalah Vincent Bessat, Jonathan Delaplace, Ronny Rodelin, dan Andy Delort.

Kedatangan pemain tersebut berhasil diolah menjadi suatu unit yang mematikan oleh Garande. Sky bahkan mengatakan bahwa Caen sekarang ibarat mesin serangan balik yang siap memanfaatkan semua kelengahan lawan saat menyerang.